Indeks
Berdiam Melawan Lupa
MATAHARI menyengat ketika Maria Catarina Sumarsih membuka payung hitam di seberang Istana Negara, Kamis pekan lalu. Ibunda Bernardus Realino Norma Irmawan—korban tewas peristiwa Semanggi 1998—bersama 32 koleganya mengenakan baju hitam. Tak ada gemuruh orasi seperti layaknya demonstrasi. Aspirasi diungkapkan melalui spanduk dan payung yang bertulisan aneka tuntutan pengusutan kasus pelanggaran hak asasi.
Terganjal di Sinyal Kuning
SUSAH benar perjalanan empat berkas penyelidikan kasus pelanggaran hak asasi manusia itu. Berbilang tahun ia mondar-mandir di sekitar Komisi Nasional Hak Asasi Manusia di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, dan gedung Kejaksaan Agung di Jakarta Selatan.
Tangis Siti di Manis Lor
SANG khatib berpesan dari atas mimbar agar jemaah meneladankan sikap dan perilaku Nabi Muhammad. Nasihat itu membuat Siti, anggota jemaah salat Jumat di Manis Lor, Kecamatan Jalaksana, Kuningan, Jawa Barat, menitikkan air mata. ”Nabi kami sama, Muhammad, tapi kenapa kami dilarang,” ia mengeluh saat berjalan menuju rumahnya.
Terantuk Hutan Bintan Bunyu
PUKUL satu dini hari Rabu pekan lalu. Dua pria bersua di lobi Hotel Ritz Carlton di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Yang satu bernama Al-Amin Nur Nasution, anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Komisi Kehutanan dan Pertanian. Yang lain Azirwan, Sekretaris Daerah Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Keduanya terlihat berbicara serius.
Undangan Istana Tak Lagi Mempan
Dunia berubah cepat bagi Burhanuddin Abdullah, 61 tahun. Dari kantornya yang luas di jantung Jakarta, kini Gubernur Bank Indonesia itu harus berbagi sel ruang tahanan Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian Negara. Komisi Pemberantasan Korupsi menahannya sebagai tersangka kasus penyelewengan dana bank sentral, Kamis pekan lalu.
Mulus dengan Catatan
SETUJU! Pekik itu menggema di ruang sidang ketika Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Agung Laksono meminta persetujuan pengesahan Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik, Kamis pekan lalu. ”Undang-undang ini memang tinggal ketuk palu saja,” kata ketua panitia kerja rancangan undang-undang itu, Arif Mudatsir Mandan.
Rumah Tak Bernomor di Daeng Tata
ENTAH apa yang terlintas di benak Basri pagi itu. Ia tetap mengayuh becak dan meninggalkan istrinya, Basse, 37 tahun, yang terbaring lemah dengan kehamilan tujuh bulan. Dua dari empat anaknya, Bahir, 5 tahun, dan Aco, 4 tahun, juga sedang tergolek sakit. ”Saya kan harus cari uang,” kata Basri, 35 tahun, dengan air muka tak berubah, Selasa pekan lalu. ”Kalau tidak, apa yang akan kami makan?”
Rame-rame Lahirkan Kota Baru
RAPAT Komisi Pemerintahan Dewan Perwakilan Rakyat itu dibuka dengan interupsi. Para interuptor mengingatkan absennya unsur Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dalam pembahasan pembentukan 14 kabupaten dan satu provinsi baru itu. Senin pekan lalu itu, rapat akhirnya hanya berlangsung 20 menit. ”Sidang ditunda,” ujar Ketua Komisi, E.E. Mangindaan.
Hanya Partai dalam Hati
NAMANYA menyiratkan masa lampau: Partai Orde Baru. Didaftarkan hampir tiga tahun silam, partai itu tercatat di nomor 16 partai yang datang ke Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Alamatnya tertulis di Jalan Perdatam Raya 54C, Jakarta Selatan. Ternyata ini alamat gerai sebuah lembaga bimbingan belajar anak-anak SMA.
Mereka Tergiur Janji Manis
JANJI surga Rico tiga tahun lalu masih terasa segar dalam ingatannya. Pria 35 tahun itu menawarkan iming-iming yang sulit ditolaknya: membawa pulang Rp 30 juta hanya dalam enam bulan. Ros—bukan nama sebenarnya—tentu saja bergetar dan akhirnya menerima tawaran untuk bekerja di Malaysia. ”Ternyata saya dijadikan pelacur,” kata perempuan langsing itu, Kamis dua pekan lalu. Ia, hingga kini, masih mondok di pesantren rehabilitasi di Kota Cianjur, Jawa Barat.
Misi Tak Selesai Menteri Yudhoyono
SUSILO Bambang Yudhoyono sebetulnya bukan orang baru dalam penyelesaian kasus Soeharto. Delapan tahun silam, ketika menjadi Menteri Pertambangan dan Energi, ia mengemban misi damai dari Presiden Abdurrahman Wahid: meminta Keluarga Cendana menyerahkan sebagian harta mereka. Seperti sekarang, kala itu, usaha tersebut juga memancing kontroversi.
Rumah Tak Rampung di Danau Raya
PEREMPUAN paruh baya itu terlihat ragu-ragu keluar dari sebuah rumah di Kelurahan Tegal Lega, Bogor, Jawa Barat. Siti Sianah, istri Menteri Pertanian era Habibie, Soleh Solahuddin, memang melenggang keluar meski mengunci mulut. ”Jangan wawancara sekarang. Nanti saja,” katanya pada Jumat pekan lalu.
Cuma Soal Nasi Padang
ANTASARI Azhar mengaku punya kebiasaan baru. Setiap menghadiri hajatan, dia tidak bakal berlama-lama. Habis salaman dengan sahibul hajat, dia langsung kabur. Walhasil, cuma beberapa menit ia habiskan di tempat hajatan.Padahal, sebelumnya dia terhitung betah di tempat pesta. Habis salaman, Antasari menuju meja makan. Mencicipi hidangan lalu mengobrol ke sana kemari. Dia juga suka reuni dengan keluarga atau handai taulan di tempat pesta.
Tak Tergantung Penanda Alam
TAK banyak debat dalam tiga jam pertemuan delegasi Indonesia dan Malaysia di Hotel Nikko, Kuala Lumpur, Malaysia. Tapi, pertemuan General Border Committee Indonesia-Malaysia itu menghasilkan sejumlah keputusan penting. ”Akan ada dua pos baru bersama pada 2008,” kata juru bicara Departemen Pertahanan, Brigjen Edi Butar-Butar, yang ikut dalam pertemuan.
Bukan Republik Bulukumba
MUSYAWARAH pimpinan daerah di kantor Pemerintah Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Rabu pekan lalu itu terkesan serius. Pejabat dari kepala desa sampai bupati hadir serentak. Isu yang dibahas juga lumayan berat: rencana pemberlakuan hukum potong tangan bagi pencuri di Kecamatan Gantarang.
’Thomas Crown’ van Indonesia
INI bukan The Thomas Crown Affair, film tentang miliuner Amerika Serikat yang ”sukses” menggondol karya pelukis Prancis Claude Monet dari The Metropolitan Museum of Art, New York. Sama-sama soal pencurian benda seni, tapi yang ini terjadi di Museum Radya Pustaka Solo, Jawa Tengah. Sang pencuri menggondol lima arca asli dan memasang yang palsu untuk menutupi aksi kejahatannya. Minggu pekan lalu, empat tersangka pelakunya ditangkap dan ditahan polisi.
MATAHARI menyengat ketika Maria Catarina Sumarsih membuka payung hitam di seberang Istana Negara, Kamis pekan lalu. Ibunda Bernardus Realino Norma Irmawan—korban tewas peristiwa Semanggi 1998—bersama 32 koleganya mengenakan baju hitam. Tak ada gemuruh orasi seperti layaknya demonstrasi. Aspirasi diungkapkan melalui spanduk dan payung yang bertulisan aneka tuntutan pengusutan kasus pelanggaran hak asasi.
Terganjal di Sinyal Kuning
SUSAH benar perjalanan empat berkas penyelidikan kasus pelanggaran hak asasi manusia itu. Berbilang tahun ia mondar-mandir di sekitar Komisi Nasional Hak Asasi Manusia di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, dan gedung Kejaksaan Agung di Jakarta Selatan.
Tangis Siti di Manis Lor
SANG khatib berpesan dari atas mimbar agar jemaah meneladankan sikap dan perilaku Nabi Muhammad. Nasihat itu membuat Siti, anggota jemaah salat Jumat di Manis Lor, Kecamatan Jalaksana, Kuningan, Jawa Barat, menitikkan air mata. ”Nabi kami sama, Muhammad, tapi kenapa kami dilarang,” ia mengeluh saat berjalan menuju rumahnya.
Terantuk Hutan Bintan Bunyu
PUKUL satu dini hari Rabu pekan lalu. Dua pria bersua di lobi Hotel Ritz Carlton di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan. Yang satu bernama Al-Amin Nur Nasution, anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Komisi Kehutanan dan Pertanian. Yang lain Azirwan, Sekretaris Daerah Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau. Keduanya terlihat berbicara serius.
Undangan Istana Tak Lagi Mempan
Dunia berubah cepat bagi Burhanuddin Abdullah, 61 tahun. Dari kantornya yang luas di jantung Jakarta, kini Gubernur Bank Indonesia itu harus berbagi sel ruang tahanan Badan Reserse Kriminal Markas Besar Kepolisian Negara. Komisi Pemberantasan Korupsi menahannya sebagai tersangka kasus penyelewengan dana bank sentral, Kamis pekan lalu.
Mulus dengan Catatan
SETUJU! Pekik itu menggema di ruang sidang ketika Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Agung Laksono meminta persetujuan pengesahan Undang-Undang Keterbukaan Informasi Publik, Kamis pekan lalu. ”Undang-undang ini memang tinggal ketuk palu saja,” kata ketua panitia kerja rancangan undang-undang itu, Arif Mudatsir Mandan.
Rumah Tak Bernomor di Daeng Tata
ENTAH apa yang terlintas di benak Basri pagi itu. Ia tetap mengayuh becak dan meninggalkan istrinya, Basse, 37 tahun, yang terbaring lemah dengan kehamilan tujuh bulan. Dua dari empat anaknya, Bahir, 5 tahun, dan Aco, 4 tahun, juga sedang tergolek sakit. ”Saya kan harus cari uang,” kata Basri, 35 tahun, dengan air muka tak berubah, Selasa pekan lalu. ”Kalau tidak, apa yang akan kami makan?”
Rame-rame Lahirkan Kota Baru
RAPAT Komisi Pemerintahan Dewan Perwakilan Rakyat itu dibuka dengan interupsi. Para interuptor mengingatkan absennya unsur Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dalam pembahasan pembentukan 14 kabupaten dan satu provinsi baru itu. Senin pekan lalu itu, rapat akhirnya hanya berlangsung 20 menit. ”Sidang ditunda,” ujar Ketua Komisi, E.E. Mangindaan.
Hanya Partai dalam Hati
NAMANYA menyiratkan masa lampau: Partai Orde Baru. Didaftarkan hampir tiga tahun silam, partai itu tercatat di nomor 16 partai yang datang ke Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Alamatnya tertulis di Jalan Perdatam Raya 54C, Jakarta Selatan. Ternyata ini alamat gerai sebuah lembaga bimbingan belajar anak-anak SMA.
Mereka Tergiur Janji Manis
JANJI surga Rico tiga tahun lalu masih terasa segar dalam ingatannya. Pria 35 tahun itu menawarkan iming-iming yang sulit ditolaknya: membawa pulang Rp 30 juta hanya dalam enam bulan. Ros—bukan nama sebenarnya—tentu saja bergetar dan akhirnya menerima tawaran untuk bekerja di Malaysia. ”Ternyata saya dijadikan pelacur,” kata perempuan langsing itu, Kamis dua pekan lalu. Ia, hingga kini, masih mondok di pesantren rehabilitasi di Kota Cianjur, Jawa Barat.
Misi Tak Selesai Menteri Yudhoyono
SUSILO Bambang Yudhoyono sebetulnya bukan orang baru dalam penyelesaian kasus Soeharto. Delapan tahun silam, ketika menjadi Menteri Pertambangan dan Energi, ia mengemban misi damai dari Presiden Abdurrahman Wahid: meminta Keluarga Cendana menyerahkan sebagian harta mereka. Seperti sekarang, kala itu, usaha tersebut juga memancing kontroversi.
Rumah Tak Rampung di Danau Raya
PEREMPUAN paruh baya itu terlihat ragu-ragu keluar dari sebuah rumah di Kelurahan Tegal Lega, Bogor, Jawa Barat. Siti Sianah, istri Menteri Pertanian era Habibie, Soleh Solahuddin, memang melenggang keluar meski mengunci mulut. ”Jangan wawancara sekarang. Nanti saja,” katanya pada Jumat pekan lalu.
Cuma Soal Nasi Padang
ANTASARI Azhar mengaku punya kebiasaan baru. Setiap menghadiri hajatan, dia tidak bakal berlama-lama. Habis salaman dengan sahibul hajat, dia langsung kabur. Walhasil, cuma beberapa menit ia habiskan di tempat hajatan.Padahal, sebelumnya dia terhitung betah di tempat pesta. Habis salaman, Antasari menuju meja makan. Mencicipi hidangan lalu mengobrol ke sana kemari. Dia juga suka reuni dengan keluarga atau handai taulan di tempat pesta.
Tak Tergantung Penanda Alam
TAK banyak debat dalam tiga jam pertemuan delegasi Indonesia dan Malaysia di Hotel Nikko, Kuala Lumpur, Malaysia. Tapi, pertemuan General Border Committee Indonesia-Malaysia itu menghasilkan sejumlah keputusan penting. ”Akan ada dua pos baru bersama pada 2008,” kata juru bicara Departemen Pertahanan, Brigjen Edi Butar-Butar, yang ikut dalam pertemuan.
Bukan Republik Bulukumba
MUSYAWARAH pimpinan daerah di kantor Pemerintah Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan, Rabu pekan lalu itu terkesan serius. Pejabat dari kepala desa sampai bupati hadir serentak. Isu yang dibahas juga lumayan berat: rencana pemberlakuan hukum potong tangan bagi pencuri di Kecamatan Gantarang.
’Thomas Crown’ van Indonesia
INI bukan The Thomas Crown Affair, film tentang miliuner Amerika Serikat yang ”sukses” menggondol karya pelukis Prancis Claude Monet dari The Metropolitan Museum of Art, New York. Sama-sama soal pencurian benda seni, tapi yang ini terjadi di Museum Radya Pustaka Solo, Jawa Tengah. Sang pencuri menggondol lima arca asli dan memasang yang palsu untuk menutupi aksi kejahatannya. Minggu pekan lalu, empat tersangka pelakunya ditangkap dan ditahan polisi.






