Posts

Showing posts with the label Politics

Inconsistent Law Enforcers

A variety of problems have surfaced during the elections for regional heads. Interestingly, only one is in court: the Depok case. AS of June 2005, there have been 166 direct elections of regional heads, either to elect mayors, regents or governors. None however have been as sensational as the election of the mayor of Depok, West Java. The rivalry between the Nurmahmudi Ismail-Yuyun Wirasaputra duet and Badrul Kamal-Syihabuddin Ahmad duet has even reached the level of the Supreme Court (MA), even though the Law on Regional Government states that the resolution of disputes over the election of regional heads are final at one judicial level: The high court for the election of mayors and regents and the Supreme Court for governors. Of course disputes over the election of district head are not exclusively over the issue of the vote count. Based on the Independent Election Monitoring Committee's (KIPP) records, there are two types of issues that have been the source of disputes. Firstly,...

KPU Under Fire

Who would have thought that Mulyana W. Kusumah would find himself in the defendant's chair at the Corruption Crimes Court? LOCATED in Kuningan, South Jakarta, the courthouse was packed with visitors. At the outset of the court session, prosecutors Suwarji, Chatarina Muliana and Muhibuddin gave a chronology of the events surrounding the misappropriation of ballot boxes during the 2004 General Elections. The prosecution started with Mulyana's meeting with KPU Deputy Secretary-General, Sussondko Suhardjo, who endorsed the contract for the provision of ballot boxes, in January 2005. At the time, Mulyana was acting in his capacity as Chairman of the Committee for the Supply of Election Ballot Boxes for 2004. According to the prosecution, this meeting was held to discuss the results of investigation reports issued by the Supreme Audit Agency (BPK) Investigation Inspecting Sub-team, indicating corruption, collusion and nepotism during the provision of ballot boxes. The prosecution the...

An Excessive Sentence?

The public prosecutor in Bali filed an appeal on the 20-year prison sentence for Corby, considering it too light. Why are the airport police reluctant to do a fingerprinting test? MERCEDES Corby cried and shouted, "Schapelle is innocent. This verdict is unjust," she shrieked at the judge in Bali, sentencing Schapelle Leigh Corby to 20 years in prison. The 30-year-old woman sobbed loudly, disappointed over the court's decision, and a fine of Rp100 million against her younger sister, Schapelle. Corby, 27, a university student from Brisbane, Australia, was tried for possession of 4.2 kilograms of marijuana upon arriving at the Bali's Ngurah Rai Airport on October 8, 2004. Airport authorities discovered the drug in two plastic containers in her bag, along with a pair of scuba flippers and a surfboard. Corby was charged under Law No. 2/1977 on Narcotics. She was found guilty of transporting Class I narcotics into Indonesian territory. This type of violation is punishable b...

Taking Offense

Human rights activists have condemned the "insult against the president" regulations, claiming they have no place in a democratic country. LAST Monday, student activist Wayan Gendo Suardana stood trial on charges of insulting the president. At one point during the hearing, Suardana stood from his seat and rushed out of the courtroom to meet with colleagues who had gathered outside the Denpasar District Court. Judicial panel chairperson, I Made Sudia seemed momentarily stunned, but then composed himself before bellowing: "Guards, secure the defendant!" whereupon the guards escorted Suardana back to the room to continue the hearing. Evidently, Suardana, 29, was upset with the court's decision to deny his request to have President Susilo Bambang Yudhoyono summoned to give testimony during the trial. In fact, the court initially granted Suardana's request to have the president summoned. However, this decision was overruled by the High Court. Suardana was convinc...

Removing a Stumbling Block

The Constitutional Court has revoked an article preventing any judicial review of laws issued before 1999. Some oppose it, many others welcome it. THE chance to question laws in the Constitutional Court is now indeed wide open. It results from the annulment of Article 50 of Law No. 24/2003 on the Constitutional Court, which regulates the institution's authority to review laws. In its session on April 12, the Constitutional Court declared the article in opposition to the 1945 Constitution. With this decision, all laws are automatically liable to judicial reviews, including that concerning capital punishment. Those that will apparently move soon are several non-governmental organizations for human rights like the Commission for Missing Persons and Victims of Violence (Kontras), Imparsial, the Indonesian Legal Aid Foundation, the Jakarta Legal Aid Institute, and the Human Rights Study and Advocacy Institute. They are preparing a judicial review of a number of laws stipulating the deat...

An Icon from Calang

ONE morning last February, as usual, Dina Astita arrived in one of the emergency schools located at Calang City, Aceh Jaya, Nanggroe Aceh Darussalam. Before long, two Time magazine reporters arrived to conduct an interview with her. The conversation carried on for more than half an hour, touching on subjects from her students to her family. Dina has long since forgotten the interview that February 23, 2005. She was reminded of it only when a short message service arrived from a colleague in Jakarta, two weeks ago. The content of the message was surprising. The 34-year-old was featured in the April 18, 2005 edition of Time. She was considered one of the 100 most influential figures in the world today. In the magazine's report, Dina is listed in the same pages as the Dalai Lama (Tibetan spiritual leader), Bill Gates (Microsoft boss), Viktor Yuschenko (Ukrainian leader), and Michael Schumacher (Formula 1 race car driver). They are viewed as icons and heroes within their respective fie...

Pemerintah Bantah Membeda-bedakan Jenis Bencana

Jum'at, 08 April 2005 | 21:57 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta: Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan, pemerintah tak bermaksud membedakan perlakuan antara penanganan bencana yang dialami satu daerah dibanding daerah lain. "Bencana nasional dan daerah sama saja. Tidak ada bedanya," kata Kalla yang ditemui usai acara Pelatihan Pengkaderan Partai Golkar 2005 di Slipi, Jakarta, Jumat (8/4). Ketua Umum Partai Golkar ini menegaskan, pemerintah sama sekali tak ingin membedakan antara jenis bencana yang terjadi di Aceh ataupun Nias, Sumatera Utara. Menurutnya, Presiden mengatakan di Aceh itu disebut bencana nasional karena skalanya memang besar sekali. Pemerintah daerah di Aceh, katanya, lumpuh tak berfungsi lantaran banyak pegawai yang meninggal. Pemerintah pusat lantas menugaskan salah seorang menteri dan wakil kepala staf angkatan darat. Kalla menjelaskan, dalam penanganan bencana di Nias, tanggung jawabnya tetap di tangan pemerintah. Namun, karena Gubernur masih bisa bekerja se...

Instruksi Mabes Polri Perlu Diawasi Presiden

Jum'at, 08 April 2005 | 01:03 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta: Anggota Dewan Pers Leo Batubara berpendapat, untuk mengefektifkan pelaksanaan instruksi Mabes Polri soal prioritas penanganan perkara penyidikan kasus korupsi dan pencemaran nama baik, perlu campur tangan presiden. Hal ini disampaikan Leo dalam Diskusi Kamisan Radio 68H bekerjasama dengan AJI dan Majalah Tempo di Hotel Sahid, Jakarta, Kamis (8/4). Pernyataan ini menanggapi adanya edaran dari Mabes Polri kepada kepolisian di seluruh Indonesia agar mendahulukan penyidikan kasus korupsinya, dibanding menyidik kasus gugatan pencemaran nama baik yang biasanya muncul akibat laporan soal itu. Menurut Leo, salah satu cara yang bisa dilakukan Presiden adalah memanggil langsung Kapolri dan Jaksa Agung agar benar-benar mengawasi pelaksanaan edaran itu. "Apalagi, di awal pemerintahannnya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sudah berjanji akan memimpin pemberantasan korupsi," kata dia. Direktur III Badan Reserse Kriminal Mabes...

Pemerintah akan Tertibkan Rekening Sumbangan Bencana

Jum'at, 01 April 2005 | 18:36 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah berencana menata kembali rekening yang ada di masing-masing departemen untuk menampung sumbangan dana bencana Aceh dan Nias. "Akan ditertibkan," kata Menteri Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi saat ditanya wartawan soal banyaknya rekening sumbangan untuk Aceh di masing-masing departemen, usai jumpa pers di kantor Presiden, Jakarta, Jumat (1/4). Menurut Sudi, sebenarnya banyak negara donor yang berkeinginan memberikan sumbangan untuk Aceh. Namun ada kekhawatiran sumbangan tidak sampai, sehingga mereka menunggu rencana besar (master plan) rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh selesai dibuat. "Setelah master plan jadi, mereka akan ambil bagian," kata mantan Sekretaris Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan ini. Ditanya soal adanya dugaan, dana rehabilitasi dan rekonstruksi ada yang diselewengkan, pihaknya justru ingin mendapat masukan dari masyarakat. Dia berharap semua unsur pengawasan, pe...

Pemerintah Siapkan Dana Berapapun untuk Nias dan Simeleu

Selasa, 29 Maret 2005 | 20:27 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta: Wakil Presiden Jusuf Kalla yang juga ketua Badan Kordinasi Penanganan Bencana Nasional (Bakornas) memastikan bahwa pemerintah akan menyediakan berapapun besarnya dana untuk tanggap darurat di Nias dan Simeleu. "Kita punya dana darurat yang tersedia. Tapi berapapun, kita akan membiayai. Berapa saja," kata Kalla dalam jumpa pers kepada wartawan di Kantor Kepresiden, Selasa (29/3) sore. Jumpa pers ini digelar setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden dan Menteri Kabinet Indonesia Bersatu yang digelar mendadak di Istana Presiden, sekitar pukul 12.00 WIB. Menteri yang mendampingi Presiden dan Wakil Presiden dalam jumpa pers adalah Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Widodo AS, Menteri Dalam Negeri Ma'ruf, Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral Purnomo Yusgiantoro, Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan Kepala Polri Jenderal Da'ii Bachtiar. Se...

Presiden Yudhoyono Bantah Pernyataan Megawati

Selasa, 29 Maret 2005 | 21:39 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membantah pernyataan mantan Presiden Megawati dalam suatu kesempatan yang menyatakan bahwa Yudhoyono mengingkari janjinya saat kampanye untuk tidak menaikkan harga BBM. Hal ini disampaikan Presiden saat ditanya wartawan dalam jumpa pers soal langkah-langkah penanganan pemerintah menanganai gempa di Nias dan Simeleu, di kantor Presiden, Jakarta, Selasa (29/3). "Tidak pernah ada pernyataan apapun yang saya sampaikan bahwa apabila saya terpilih lantas tidakakan menaikkan BBM. Tidak pernah ada ucapan satu kalipun bahwa saya tidak akan menaikkan haga BBM. Saya kira yang disebut ingkar janji itu tidak tepat dan karena tidak pernah ada, tidak terbukti," kata Presiden. Presiden mengaku tak ingin menanggapi soal-soal semacam ini karena menghormati mantan Presiden Megawati dan mantan presiden lainnya. Selain itu, dia berpendapat, tugas yang diembannya kini sangat banyak. "Tugas saya bany...

Pemerintah Memperkirakan Korban Jiwa Sementara 200 Orang

Selasa, 29 Maret 2005 | 12:08 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah hingga pagi ini memperkirakan ada 100 sampai 200 korban meninggal akibat gempa di Nias, Sumatera Utara, Senin (28/3) tengah malam. Korban yang luka lebih banyak, namun belum bisa diperkirakan jumlahnya. Hal ini disampaikan Menteri Komunikasi dan Informasi Sofyan Jalil usai rapat koordinasi di kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (29/3). Rapat yang dipimpin Wakil Presiden Jusuf Kalla ini diikuti Menteri Koordinator Ekonomi Aburizal Bakrie, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto, Menteri Perencanaan Nasional Sri Mulyani, dan Kepala Polri Jenderal Da'i Bachtiar. Rencananya, kata Sofyan, pemerintah akan mengirimkan bantuan 20 tenaga medis dan obat-obatan dengan pesawat hercules, siang nanti. Tenaga medis dan obat-obatan yang ada di Sumatera Utara juga akan ikut dikirim ke sana. Menteri Sosial dan Menteri Kesehatan juga akan berangkat ke lokasi...

Identifikasi Pemerintah soal Kerusakan di Nias

Selasa, 29 Maret 2005 | 21:29 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta: Korban meninggal 100-200 orang (keterangan Menteri Komunikasi dan Informatika Sofyan Jalil, (Selasa pagi). Menurut keterangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berdasarkan laporan Wakil Bupati Nias Selasa pagi, korban meninggal 38 orang, 114 luka-luka. Sekitar 500 rumah hancur. Enam jembatan di Kota Gunung Sitoli ambruk dan jalur komunikasi lumpuh. Instalasi air bersih baik, tapi pipa yang mensuplai air bersih ke instalasi rusak Listrik padam akibat PLTGU Belawan rusak. Akibat gempa, pembangkit yang berkapasitas 800 MW itu kehilangan daya 500 MW, sehingga yang tersisa 300 MW. Akibatya, terjadi pemadaman di Medan dan sekitarnya. Jalan-jalan retak-retak dan tak berfungsi karena tiang-tiang listrik banyak yang tumbang Pelabuhan udara di Nias dan Simeleu tak bisa beroperasi karena lapangan retak-retak dan towernya tumbang. Sehingga alternatif pengiriman bantuan hanya melalui jalan laut dan udara (helikopter). Depo BBM di Nias han...

Ambalat Tetap Bagian Wilayah Indonesia

Rabu, 23 Maret 2005 | 16:07 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta: Menteri Luar Negeri Nur Hassan Wirajuda mengatakan, Indonesia tetap dalam posisi: Ambalat bagian dari wilayah Indonesia. Penegasan ini dia cetuskan saat perundingan tim teknis delegasi Indonesia dan Malaysia di Bali. Perundingan kedua delegasi berlangsung Selasa (22/3) dan Rabu (23/3). "Kami tetap dengan klaim semula, tidak mundur, bahwa wilayah Ambalat tetap bagian wilayah Indonesia," kata Wirajuda kepada wartawan di kantor Presiden, Rabu (23/3). Argumentasi yang Indonesia pakai, kata dia, yaitu pada cara penarikan atau penentuan titik dasar mauapun garis pangkal. "Titik dasar maupun garis pangkal itu memang dimungkinkan untuk Indonesia sebagai negara kepulauan," paparnya. Menlu menjelaskan, menarik titik dasar yang dimaksud adalah dari pangkal yang menghubungkan Pulau Sipadan dan Ligitan. Menurut Wirajuda, hal itu tak bisa dilakukan oleh Malaysia karena negara itu bukan negara kepulauan. Dasar yang dipakai...

Perpres Badan Pelaksana Aceh Segera Diteken Presiden

Senin, 21 Maret 2005 | 20:44 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta: Draft Peraturan Presiden tentang Pembentukan Badan Pelaksana Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh sudah rampung. "Sudah di saya. Nanti saya teken. Saya tidak terlalu birokratis kok," kata Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, seperti ditirukan Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto, saat ditemui wartawan di Istana Presiden, Jakarta, Senin (21/3). Kirmanto mengatakan, saat bertemu Presiden tadi pagi, soal ini juga sudah disampaikan. Pembentukan badan pelaksana ini memang sangat ditunggu, termasuk negara donor. "Apalagi kan masa darurat kan selesai akhir bulan. Jadi kegiatan-kegiatan di sana nanti akan ditangai badan pelaksana ini," kata Kirmanto. Rencananya, pengesahan badan pelaksana ini akan disahkan dalam bentuk peraturan presiden, bukan peraturan pemeritah. "Sementara dengan peraturan presiden dulu. Tidak menutup kemungkinan nanti kalau ditingkatkan," tambahnya. Dalam draft final yang sudah ditangan p...

Presiden Buka Rapat Kerja KB Nasional

Senin, 21 Maret 2005 | 20:15 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara resmi membuka acara Rapat Kerja Nasional Keluarga Berencana di Istana Negara, Jakarta, Senin (21/3). Rapat kerja yang akan berlangsung 24 Maret 2005 ini mengambil tema "Dengan semangat kebersamaan, kita tingkatkan ketahanan penduduk dan keluarga sebagai landasan membangun citra dan martabat bangsa." Selain 300 peserta rapat kerja, yang juga ikut datang dalam acara ini adalah Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Alwi Sihab, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Sapari, Menteri Dalam Negeri Ma'ruf dan Menteri pekerjaan Umum Joko Kirmanto. Kepada peserta rapat, Presiden menekankan pentingnya keluarga berencana dalam ikut mendorong terciptanya pembangunan sumber daya manusia. Presiden juga menerangkan beberapa masalah yang dihadapai bangsa ini, di antaranya soal tenaga kerja yang mencapai 10 persen. "Kita berharap dengan pertumbuhan 6,5 persen akan menciptakan lapangan kerja...

Blora Center Tetap Akan Independen

Senin, 21 Maret 2005 | 17:53 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta:Blora Center, sebagai salah satu campain manager Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pemilihan lalu, tetap berada di luar kekuasaan dan bersikap independen. Hal ini disampaikan Direktur Blora Center, M. Jusuf Rizal, usai bertemu Presiden di kantor Kepresidenan, Jakarta, Senin (21/3). Menurut Rizal, Presiden berharap Blora Center juga bisa memberi sosialiasi yang benar terhadap apa yang dilakukan pemerintah. "Kita tetap disuruh berperan utuk melakukan mediasi antara publik dan republik, memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang apa yang dilakukan pemerintah," kata Rizal. Blora Center juga akan berperan sebagai tangki pemikir. Karena itu, kata Rizal, pihaknya berencana membentuk Blora Institute. Lembaga ini diharapkan bisa memberikan koreksi terhadap pemerintah, terutama terhadap demokratisasi dan pendidikkan politik. Dalam pertemuan tadi, Presiden mendiskusikan beberapa hal. Blora Center juga memberi masukan. ...

Presiden Buka Rapat Kerja KB Nasional

Senin, 21 Maret 2005 | 20:15 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta: Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara resmi membuka acara Rapat Kerja Nasional Keluarga Berencana di Istana Negara, Jakarta, Senin (21/3). Rapat kerja yang akan berlangsung 24 Maret 2005 ini mengambil tema "Dengan semangat kebersamaan, kita tingkatkan ketahanan penduduk dan keluarga sebagai landasan membangun citra dan martabat bangsa." Selain 300 peserta rapat kerja, yang juga ikut datang dalam acara ini adalah Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Alwi Sihab, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Sapari, Menteri Dalam Negeri Ma'ruf dan Menteri pekerjaan Umum Joko Kirmanto. Kepada peserta rapat, Presiden menekankan pentingnya keluarga berencana dalam ikut mendorong terciptanya pembangunan sumber daya manusia. Presiden juga menerangkan beberapa masalah yang dihadapai bangsa ini, di antaranya soal tenaga kerja yang mencapai 10 persen. "Kita berharap dengan pertumbuhan 6,5 persen akan menciptakan lapangan kerja...

Pertemuan Presiden-Ketua Fraksi DPR Batal

Jum'at, 18 Maret 2005 | 17:24 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta: Pertemuan antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan para ketua fraksi DPR, yang rencananya dilaksanakan Jumat (17/3) ini, batal dilaksanakan. Pembatalan ini disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam jumpa pers di kantor Wakil Presiden, Jakarta, usai salat Jumat. "Memang ada permintaan kepada Presiden untuk menjelaskan lebih dalam sebenarnya apa sebabnya kenaikan harga BBM itu. Tapi karena semuanya sudah lebih transparan, banyak dijelaskan sebelumnya, karena itu acara dimaksud tidak jadi diadakan. Dibatalkan," kata Kalla. Presiden menganggap, ujar Kalla, penjelasan sebelumnya di rapat konsultasi sudah jelas. Rencananya ketua-ketua fraksi di DPR akan menemui Presiden di Istana Merdeka sekitar pukul 21.00 WIB. Fraksi-fraksi di DPR sendiri terbelah menyikapi kebijakan pemerintah yang menaikkan harga BBM. Rapat Paripurna yang sudah digelar sejak Selasa (15/3) pekan ini belum berhasil mengambil keputusan tent...

TNI Identifikasi Kapal Perompak dari Malaysia

Tempo Interaktif, 16 Maret 2005 TEMPO Interaktif, Jakarta: Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto mengatakan, TNI mengidentifikasi bahwa kapal yang melakukan perompakan di Selat Malaka berasal dari Malaysia. "Belum secara pasti identitasnya, tapi kapalnya, untuk sementara ini, diketahui memang kapal yang datang dari malaysia, tapi belum tentu warga negaranya," kata Sutarto, yang ditemui di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (16/3) malam. Menurut Sutarto, dengan identifikasi ini, belum bisa dipastikan kewarganegaraan pelaku perompakan. "Tapi dari laporan Angkatan Laut tadi pagi, terdeteksi itu kapal datang dari Malaysia," kata Sutarto, saat ditanya kapal yang melakukan perompakan terhadap kapal Idaten, milik Jepang, saat menarik kapal tongkang Kuroshio I di Selat Malaka. Sutarto mengatakan, selama ini pengamanan di Selat Malaka dilakukan tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia dan Singapura. Untuk pengamanannya, ketiga negara melakukan patroli bersama di kawasan itu. ...